Artikel

Mencairkan Hubungan Anak dan Orangtua

Kredit kepada Ustazah Haslinda untuk kandungan ini.

Dalam bengkel keluarga saya banyak orangtua yang melahirkan rasa tidak puas hatinya ttg. anak anaknya tetapi dalam masa yang sama juga banyak orang tua berbesar hati membangga banggakan anak anaknya.. Al Quran pun mencatat bahwa anak anak dan harta adalah kebanggan semata dan juga fitnah dalam mengharungi hidup di dunia.

Apabila seorang ibu mencerita ttg. kenakalan atau keburukan anak anaknya dia juga lupa bahwa dia masih menjadi anak kepada orangatuanya dan mungkin pernah melakukan perbuatan yang sama dilakukan oleh anak anaknya .Subhanallah . Hal ini memerlukan pandangan yang lebih holistik bahwa apabila kita menginginkan kebaikan kebaikan dari orang lain maka kita juga harus mencatat kebaikan kebaikan dalam hubungan yang sama. Dalam arti apabila orangtua inginkan kebaikan dari anak anaknya diapun harus menilai kebaikan apa yang terkurang kita berikan kepada orangtua kita. Apabila kesadaran ini ada kita bukan saja mau beristighfar dan bertaubat tetapi memulai hidup mulia sehingga kitapun dimuliakan.
Read More


Kasih ibu sepanjang masa

Kredit kepada Ustazah Haslinda untuk kandungan ini.

Minggu lalu seorang teman bercerita tentang sepupu lelakinya yang accident dan koma di ICU. Lama sepupunya ini tidak sadarkan diri . Ada yang pujuk ibunya agar memaafkan kesalahan yang pernah sang anak lakukan tetapi si ibu terkeluar kata , “hati aku sakit, aku takkan maafkan dia”. Satu hari , teman saya yang kebetulan datang menjenguknya di hospital ternampak sang ibu menangis di tepi katil anaknya dan mengusap ngusap dada anaknya dan terdengar si ibu berkata , ” aku maafkan semua kesalahan kau “. Teman saya bercerita lagi , “belum sempat saya membuka pintu rumah sehabis jenguk di hospital, hp. berbunyi dan mengabarkan tentang kematian sepupunya itu”. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun. Teringat kisah sahabat al Qamah yang meninggal setelah diampunkan dosanya oleh ibunya.
Read More


Ada apa dengan kebencian?

Kredit kepada Ustazah Haslinda untuk kandungan ini.

Kebencian wujud kerana adanya kemarahan yang berlarutan, kesalahan yang tidak boleh dimaafkan atau dihilangkan. Setengah orang menjadikan dendam yang berlarutan hingga ke tujuh keturunan.

Impak dari kebencian barangkali berperingkat peringkat misalkan bermasam muka, tidak bertegur sapa, mendiamkan dan menjauhkan diri dari orang yang berkenaan. Apabila kebencian memuncak dan tidak terbendung lagi maka tersimpan dendam kesumat yang mungkin akan melahirkan sikap yang membahayakan baik pada orang yang dibenci malah pada yang orang membenci itu sendiri. Sebab itulah Islam mendidik umatnya agar berakhlaq mulia sehingga dapat mengelakkan dan membendung sikap marah dan dimarahi yang akan megakibatkan rasa kebencian pada kedua belah pihak.
Read More


Sikap Memaafkan dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Kredit kepada HarunYahya.com untuk kandungan ini.

Salah satu sifat mulia yang dianjurkan dalam Al Qur’an adalah sikap memaafkan:

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. (QS. Al Qur’an, 7:199)

Dalam ayat lain Allah berfirman: “…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)

Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur’an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:

… dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14)

Juga dinyatakan dalam Al Qur’an bahwa pemaaf adalah sifat mulia yang terpuji. “Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (Qur’an 42:43) Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, “…menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.” (QS. Ali ‘Imraan, 3:134)
Read More


Perlunya Berfikir Sebelum Bercakap

Kredit kepada Ishzah untuk kandungan ini.

RASULULLAH SAW pernah mengumpamakan lidah itu sebagai kunci segala perkara, yakni perkara baik dan buruk. Sabda Baginda kepada Muaz bin Jabal yang bermaksud: “Mahukah engkau aku beritahukan mengenai kunci semua perkara ini? Aku (Muaz) menjawab: Mahu wahai Rasulullah SAW. Lalu Baginda SAW memegang lidahnya dengan berkata: Awas, jagalah ini (lidah) baik-baik. Aku (Muaz) pun berkata pula: Wahai Rasulullah SAW, apakah kami akan dituntut atas tutur kata kami? Lalu Baginda SAW menjawab: Moga-moga Allah peliharakan engkau. Tiada lain yang akan menjerumuskan manusia menerusi muka atau batang hidungnya ke dalam neraka, melainkan tutur katanya sendiri.” (Hadis riwayat al-Tirmizi)

Demikianlah betapa beratnya bencana lidah itu sehingga boleh menyebabkan tuannya terjerumus ke dalam api neraka. Sehubungan itu, kita seharusnya menjaga dan mengawasi lidah daripada mengucapkan perkataan keji dan kotor. Di sampingnya, selalu ada bahaya menunggu.
Read More


Page 3 of 4«1234»

COPYRIGHT © 2009 AFDAH.COM | DESIGNED & MAINTAINED BY AFDAH WAHIB